Saya kalo jadi mereka juga bakal pindah..
Tersebutlah suatu dunia, di mana orang-orangnya gemar membuat aturan-aturan. mereka membuat aturan itu untuk menghindarkan diri dari kekacauan hidup. mereka sangat patuh akan aturan itu, dan memberlakukan aturan pada seluruh aspek di dalam hidupnya. karena itu, segala sesuatu yang terjadi di dunia itu selalu berlangsung lancar tanpa hambatan.Tetapi karena terbiasa serba lancar dan serba diatur, mereka menjadi takut akan pelanggaran, yang berarti akan menjadi cikal bakal kekacauan dan mereka tidak mampu menghadapinya saking terbiasanya dengan keteraturan. Maka itu mereka pun mengajarkan pada anak-anak dan keturunan mereka agar juga menjaga segala macam aturan-aturan yang mereka buat, tanpa terkecuali.
Tapi namanya juga anak-anak, biarpun sudah diajari sekalipun tetap saja mereka gemar bercanda, saling meledek dan saling menjahili. Mereka juga gemar membuat aturan-aturan mereka sendiri sebagai permainan mereka dan juga memiliki jalan pikiran yang berbeda dari orangtua mereka.
Para orangtua melihat hal ini sebagi ancaman bagi keteraturan yang telah dibentuk, karena itu mereka memutuskan untuk melenyapkan anak-anak ini.
Mereka membawa garu, pisau, tongkat, perkakas apapun yang bisa dijadikan senjata untuk mengakhiri hidup anak-anak yang dianggap "sesat" ini. Anak-anak hanya bisa berlari, sejauh mungkin dari orang-orang yang berniat menghabisi mereka. Mereka terus berlari sampai mereka bertemu jalan buntu.
Tetapi, di ujung jalan buntu ini terdapat pintu. Tanpa ragu-ragu mereka melewati pintu itu, sementara orangtua-orangtua mereka tak mampu melewati pintu itu.
Di balik pintu itu, ternyata ada dunia lain. Kedatangan mereka menarik perhatian orang-orang dari dunia lain itu sehingga dalam waktu singkat anak-anak itu dikerumuni dan dihujani pertanyaan.
Setelah anak-anak itu menceritakan kisah mereka, seseorang dari dunia lain berkata "Wah, menarik sekali! Sebuah dunia di mana hanya boleh ada satu macam peraturan dan jalan pikiran! Pasti agak sulit ya, tinggal di sana?
Di sini, aturan setiap orang boleh berbeda-beda. Jalan pikiran kami juga bermacam-macam dan kami bangga akan hal itu! Kami gemar mendengar pendapat orang lain dan sangat senang mengetahui berbagai macam opini. Bagi kami, hal itu seperti warna bagi kehidupan kami. Bergabunglah dengan kami, warnailah hidup kami dan kami akan mewarnai hidup kalian!"
Maka sejak itu anak-anak itu tidak pernah kembali pada orangtua mereka.
Entah mereka bahagia atau tidak di dunia penuh warna itu.
The End
(Saya berasumsidi sana kondisinya kacau balau sekali, tetapi semua orang enjoy-enjoy aja ya.. Mungkin kl salah satu dari mereka berpikir "kita harusnya menyamakan pikiran!" yang lain cuma bilang "kayaknya lucu juga, ah tapi paling abis itu kita bosen.. eh, jadi bosen kayaknya menarik juga!" ^^a)
Labels: anak-anak, dunia, pemberontakan

0 Comments:
Post a Comment
<< Home