Saya Mati
Yang lemah akan dimakan oleh yang kuat dan yang kuat lambat laun akan dimakan oleh yang lebih kuat lagi. Menurut saya pribadi sih, jangan pernah berpikir bahwa kita yang terkuat.Tapi jangan berpikir kita yang paling lemah juga, jangan dengan mudahnya berpikir "Ah kita ini kan lemah, santai-santai aja toh kita cuma ada untuk diburu yang kuat." karena hidup lebih berharga dari yang kita pikir.
Dan penyesalan itu biasanya datengnya telaaaaat banget, ngalah-ngalahin budaya ngaret bangsa kita *ditampol satu negara*.
Saya mimpi saya dikumpulkan bersama banyak orang. Mereka semua adalah.. emm, orang-orang yang bergerak dalam dunia hitam, bangsanya mafia atau apalah. Dari yang kelas teri sampe yang terkenal ada di sana. Saya termasuk ke dalam yang tidak banyak dikenal karena grup saya ga pernah meninggalkan jejak dan bukti ketika melakukan pekerjaan, contohnya kira-kira kalo orang grup saya ngebunuh orang, biasanya grup lain yang disalahin dan grup yang apes itu bakal ngira grup lain lagi yang nge-frame mereka. Asli aja semua orang ngeliat kita dengan tatapan "Elu siapa? Ngapain orang kayak lu ada di sini?"
Kondisi di sana tegang, karena banyak dari yang dikumpulkan itu saling bermusuhan. Tinggal tunggu waktu sampe orang-orang di sana mulai saling bunuh (entah karena emang goblok ato ada yang pinter provokasi). Yang teri-teri tentu mati duluan, meninggalkan orang-orang kelas hiu (termasuk grup saya untungnya, yang sialnya sekarang jadi noticeable). Yang tersisa untungnya cukup pintar untuk berhenti sebelum mereka bener-bener menghabisi satu sama lain.
Yang tersisa mulai curiga kalau pertemuan malam itu memang untuk menghabisi teri-teri dunia hitam, menyisakan ruang bergerak yang lebih leluasa bagi yang kuat-kuat.
Setelah pertemuan itu, ada kerjaan yang harus saya lakukan. Dikatakan bahwa sekarang organisasi-organisasi gede pun mulai tumbang dan kita harus nyari tau sebelum kita ikut tumbang juga.
Pas nyelidikin, saya liat gelagat bawahan dan kolega saya (kalo bukan temen) aneh. Di tahap akhir pekerjaan mereka selalu ninggalin petunjuk yang ga ada hubungannya sama sekali sama pekerjaan mereka dan mereka hampir pasti mati setelah melakukan hal itu.
Setelah transfer sekian banyak informasi, saya akhirnya tau bahwa pertemuan yang sebelumnya dimaksudkan untuk mengurangi jumlah orang di dunia hitam dan ngasih ruang bergerak yang lebih luas bagi yang terkuat (yah, bayangin kalo kita menaruh banyak ikan cupang di akuarium yang sama). Dan ternyata yang kuat-kuat pun bakal dihabisi sehingga yang tersisa cuma satu organisasi saja. Pertemuan itu cuma buat mempermudah pembantaian saja.
Dan belakangan saya sadar, petunjuk-petunjuk ga nyambung yang ditinggalin bawahan saya itu dimaksudkan sebagai pesan terakhir mereka. Mereka sadar udah nyaris ga ada harapan lagi untuk keselamatan mereka. Grup saya dihancurkan dari bawah perlahan-lahan dan sekarang giliran saya yang akan dibunuh.
Maka setelah saya memberikan semua informasi yang saya punya ke atasan saya (termasuk pesan-pesan yang ga ada hubungannya sama pekerjaan, segala petunjuk wasiat kolega dan bawahan saya), saya langsung berusaha meninggalkan lebih banyak petunjuk. Saya meninggalkan petunjuk tentang bawahan-bawahan saya (lebih tepatnya, mengusahakan supaya bukti-bukti kematian mereka ga ilang), lalu petunjuk wasiat saya sendiri untuk 2 orang yang penting banget untuk saya, in case saya terbunuh juga.
Yang pertama saya ninggalin petunjuk untuk seorang cewek. Sampai saya bangun saya masih belum tahu siapa dia tapi sepertinya dia orang grup juga, dan orang yang penting banget untuk saya.
Yang kedua saya ninggalin petunjuk untuk kakak saya. Tetapi waktu saya hampir selesai saya malah ketahuan. saya langsung tahu kalau yang mergokin saya itulah yang menghabisi rekan-rekan saya dan juga yang merencanakan pertemuan pembantaian. Dia bilang kalo dia udah tau saya udah ngasih informasi penting ke atasan saya, kalo saya sekarang lagi mencoba meninggalkan bukti tentang apa yang sedang terjadi di grup saya. Dia ngomong dengan pedenya, yakin usaha saya bakal sia-sia, yakin bahwa dia bakal berhasil ngebunuh pimpinan-pimpinan saya juga.
saya dengan tenang bilang "Oh, yaudah. Kamu mo bunuh saya kan sekarang?" sampe musuh saya ini aja kaget. Entah kenapa dalam pikiran saya, saya yakin walaupun saya gak ninggalin petunjuk yang jelas kakak saya kelak bakal tau apa yang terjadi pada saya. saya langsung menghadap ke pengawal musuh saya ini, yang udah nodongin pistolnya ke leher saya. saya bahkan ga nutup mata waktu saya ditembak.
Lalu di ambang kematian saya, saya liat kakak saya dateng. saya cuma senyum, melambaikan tangan sebentar, lalu saya mati.
saya langsung bangun dan nangis ga karu-karuan.
Sesek banget rasanya, saya lagi mencoba ngasih pesan terakhir ke orang yang sangat berharga ke saya dan gagal. Begitu saya nyaris mati orangnya malah dateng dan yang bisa saya lakuin cuma senyum doang. Sebelum saya ditembak emang saya mikir "Oh, dia orang yang berharga buat saya, dia pasti bisa menemukan petunjuk saya walopun setengah jadi." tapi setelah ditembak dan ngeliat orangnya langsung di detik-detik terakhir, saya langsung mikir "Andai saya bisa bertahan hidup, segalanya lebih mudah. Dia ga perlu dibuat susah dengan petunjuk setengah-setengah yang saya tinggalkan yang mungkin bakal menyeret dia ke masalah saya sekarang ini."
Mungkin yang membaca ini akan berkata "Ah itu sih salah lu sendiri plin-plan." Saya bukan penggemar kata-kata "It's easier said than done." tapi kalau urusannya sudah kondisi antara hidup dan mati, I guess it's really easier said than done.
Mati menyesal di dalam mimpi itu cukup ga enak ya..
Abis ini saya pasti bakal jahat banget sama orang dengan entengnya bilang "Ah, saya mau mati aja deh."
Labels: kematian, organisasi kriminal, pembunuhan

0 Comments:
Post a Comment
<< Home