Teh Keabadian
Pada jaman dahulu kala, tersebutlah suatu kerajaan yang memiliki seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan putri ini sangat terkenal sehingga banyak putra mahkota kerajaan yang ingin meminang putri ini. Raja selalu kewalahan dengan semua pinangan ini sehingga ia memutuskan untuk membuat sebuah sayembara.
Maka diumumkanlah sayembara tersebut ke seluruh negeri. Raja bertitah bahwa barangsiapa yang berhasil membawakan Teh Keabadian bagi sang raja, maka dialah yang layak meminang sang putri.
Teh Keabadian itu sendiri adalah legenda di negeri tersebut. Konon teh tersebut dimiliki oleh seorang penyihir sakti. Penyihir itu tinggal di gunung yang sangat tinggi, yang juga dihuni oleh berbagai macam naga buas dan juga penyihir-penyihir lainnya. Konon, yang membuat penyihir-penyihir itu berumur panjang karena mereka gemar meminum teh ini.
Karena sulitnya sayembara ini, putra mahkota yang berniat meminang sang putri menjadi lebih sedikit. Namun ini tak membuat orang lain yang merasa sanggup mendapatkan teh ini untuk tidak mengikuti sayembara ini. Salah satunya adalah seorang penyair tampan yang telah lama bermimpi untuk bersanding dengan sang putri.
Maka berangkatlah sang penyair menuju gunung para penyihir. Dengan mudahnya ia melewati gunung itu, menyusul pesaing-pesaingnya dan membuat mereka terheran-heran. Sang penyair merayu semua penyihir dan membuat para naga terlena dengan kemampuan menyanyinya sehingga dalam waktu singkat ia berhasil mencapai rumah sang penyihir sakti.
Sang penyair beruntung, karena pada saat itu sang penyihir sakti sedang keluar untuk memberi makan naga-naganya. Saat itu juga ia langsung mendobrak rumah sang penyihir dan mengambil daun teh keabadian milik sang penyihir.
Lalu sang penyair berpikir, "Kalau aku minum teh ini, aku akan jadi abadi dan setelah ini aku bisa meminang gadis cantik mana saja selamanya!" maka itu ia menyeduh daun teh itu dan meminumnya. Setelah itu ia mengambil daun-daun teh yang tersisa dan pergi.
Tetapi ketika ia akan pergi, rupanya sang penyihir sakti telah kembali. Ia sangat kesal karena teman-temannya dirayu sembarang orang dan naga-naganya kehilangan kebuasan mereka. Ia semakin marah ketika mendapati sang penyair keluar dari rumahnya sambil membawa teh berharganya.
Sang penyair menghadapi sang penyihir tanpa rasa takut. "Wahai penyihir. aku tidak takut padamu! Serang aku sepuasmu, aku tidak akan mati karena aku telah meminum teh keabadian milikmu!"
Tanpa ragu sang penyihir langsung menyerang sang penyair dengan sihirnya. Sang penyair langsung mati menjadi tumpukan debu.
Sambil memungut barang-barang sang penyair yang tersisa dan daun-daun teh yang diambilnya, sang penyihir berkata, "Penyair goblok, teh keabadian itu maksudnya yang abadi itu tehnya, bukan yang minumnya!"
Sang penyihir hidup bahagia selama-lamanya, menghabiskan sorenya dengan belajar gitar, biola, suling, atau membaca puisi-puisi sang penyair sambil ditemani oleh secangkir teh hangat.
FIN
(ini bukan mimpi, sekedar cerita bodoh yang dibuat berdua imbas mabok teh walini botolan. Omong-omong saya tidak berhasil menerjemahkan "bard" ke bahasa Indonesia, jadi yah.. Saya pakai "Penyair" sampai saya dapat padanan yang lebih pas..)
Labels: bard, dongeng, kerajaan, original story, penyihir, teh

0 Comments:
Post a Comment
<< Home