So Called Politeness
Di mimpi kali ini saya bisa mengendarai motor. Saya bahkan berteman dengan seorang biker perempuan yang mengajarkan saya banyak hal. Kami berkeliling ke banyak tempat dengan sepeda motor kami.
Sampai seorang polisi muda mencegat kami berdua. Dia memperingati kami karena katanya kami tidak sopan. Kami bingung karena dia bahkan tidak memeriksa SIM dan STNK kami (motor saya belum ada STNKnya) atau mempersoalkan helm kami (jelas bukan SNI). Setelah itu kami bingung saja membincangkan hal ga sopan apa sih yang baru kami lakukan karena kami berbicara dengan bahasa sopan (berhubung baru kenal), memakai pakaian sopan tertutup (berhubung ga kau masuk angin) dan bahkan tidak nyelip-nyelip di jalanan.
Di lain waktu, saya pergi dengan motor lagi. Kali ini saya janjian dengan seorang teman yang lain. Kali ini apes saya ketemu lagi sama si polisi muda yang kali ini memutuskan untuk menangkap saya.
Lagi-lagi, karena katanya saya tidak sopan. Jadi sesopan mungkin saya meminta penjelasan pada dia, apakah sikap saya ada yang menyalahi aturan yang saya tidak tahu atau saya tidak sengaja pake celana yang bolong di pantat atau sejenisnya. Si polisi malah diam, memberi tatapan seakan-akan saya goblok tidak menyadari apa kesalahan saya dan saya tidak seharusnya bertanya-tanya seperti itu pada dia.
Dan saya malah dibawa ke rumahnya. Di rumahnya dia menjelaskan bahwa saya "tidak sopan" karena menurut dia perempuan seharusnya diam di rumah, memakai rok, berlaku feminin, melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan menurut sepenuhnya pada laki-laki tanpa banyak tanya. Setelah dia ceramah panjang dia bilang bakal "mengajarkan" saya supaya saya menjadi "wanita yang sopan".
Saya nyaris melempar motor saya ketika kawannya sesama polisi datang. Si polisi muda ini seneng banget, dikiranya dia bakal punya teman untuk "memplonco" saya, tapi si polisi lain ini malah mengeluarkan pisau daging besar, mengajak si polisi muda ini ke dapur.. Lalu terdengar suara daging dan tulang dipotong dan teriakan si polisi muda.
Waktu saya intip, si polisi muda sudah dalam keadaan mati shock di dinding dengan tangan dan kaki telah terpotong potong. Si polisi mutilasi menghampiri saya saya dan bilang "Jangan bilang yang lain yah. Yuk kita pergi." Dan kami pun pergi dari rumah polisi muda yang telah termutilasi itu.
Selesai.
..Ah, mimpi.. Tau aja obsesi saya buat mencacah-cacah orang sexist..
Sampai seorang polisi muda mencegat kami berdua. Dia memperingati kami karena katanya kami tidak sopan. Kami bingung karena dia bahkan tidak memeriksa SIM dan STNK kami (motor saya belum ada STNKnya) atau mempersoalkan helm kami (jelas bukan SNI). Setelah itu kami bingung saja membincangkan hal ga sopan apa sih yang baru kami lakukan karena kami berbicara dengan bahasa sopan (berhubung baru kenal), memakai pakaian sopan tertutup (berhubung ga kau masuk angin) dan bahkan tidak nyelip-nyelip di jalanan.
Di lain waktu, saya pergi dengan motor lagi. Kali ini saya janjian dengan seorang teman yang lain. Kali ini apes saya ketemu lagi sama si polisi muda yang kali ini memutuskan untuk menangkap saya.
Lagi-lagi, karena katanya saya tidak sopan. Jadi sesopan mungkin saya meminta penjelasan pada dia, apakah sikap saya ada yang menyalahi aturan yang saya tidak tahu atau saya tidak sengaja pake celana yang bolong di pantat atau sejenisnya. Si polisi malah diam, memberi tatapan seakan-akan saya goblok tidak menyadari apa kesalahan saya dan saya tidak seharusnya bertanya-tanya seperti itu pada dia.
Dan saya malah dibawa ke rumahnya. Di rumahnya dia menjelaskan bahwa saya "tidak sopan" karena menurut dia perempuan seharusnya diam di rumah, memakai rok, berlaku feminin, melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan menurut sepenuhnya pada laki-laki tanpa banyak tanya. Setelah dia ceramah panjang dia bilang bakal "mengajarkan" saya supaya saya menjadi "wanita yang sopan".
Saya nyaris melempar motor saya ketika kawannya sesama polisi datang. Si polisi muda ini seneng banget, dikiranya dia bakal punya teman untuk "memplonco" saya, tapi si polisi lain ini malah mengeluarkan pisau daging besar, mengajak si polisi muda ini ke dapur.. Lalu terdengar suara daging dan tulang dipotong dan teriakan si polisi muda.
Waktu saya intip, si polisi muda sudah dalam keadaan mati shock di dinding dengan tangan dan kaki telah terpotong potong. Si polisi mutilasi menghampiri saya saya dan bilang "Jangan bilang yang lain yah. Yuk kita pergi." Dan kami pun pergi dari rumah polisi muda yang telah termutilasi itu.
Selesai.
..Ah, mimpi.. Tau aja obsesi saya buat mencacah-cacah orang sexist..
Labels: absurd, pembunuhan

0 Comments:
Post a Comment
<< Home