What A Strange Symbolism
Mimpi kali ini sejujurnya sangat personal sih, karena saya merasa banyak elemen yang mewakili apa yang saya rasakan di dalam hidup saya. Saya catat mimpi ini karena saya merasa mimpi kali ini memiliki pesan nasihat penting untuk saya.
Saya mimpi saya pulang ke kamar saya. Kamar ini bukan kamar saya yang sekarang, tapi kamar pribadi saya yang pertama (saya sering pindah rumah). Di kamar itu ada tempat tidur, meja belajar dan lemari besar yang isinya kayak seluruh barang-barang saya dari masa kecil sekali dijadikan wujud gambar dan ditumpuk rapat-rapat di lemari itu. Saya baru pulang, baru mau ganti baju dan beristirahat di kamar itu, tapi ternyata kamar saya tidak ada tirainya, hanya tirai tipis transparan sementara di luar entah kenapa banyak orang berkumpul. Cewek-cewek usia sekolah berkumpul seperti sedang kegiatan ekskul, mereka menatap ke arah kamar saya seakan-akan kamar saya tidak harusnya berada di situ. Mereka bahkan tidak segan untuk masuk untuk numpang lewat ke wc dan sebagainya.
Jadi karena saya ga bisa istirahat dengan tenang karena merasa ruang pribadi saya diganggu, saya pergi lagi.
Begitu saya pulang, entah kenapa kamar saya itu berada di pinggir pantai. Sepotong kamar itu berada di pantai yang sedang dibangun dan kamar itupun seperti sedang dibongkar. Saya panik dan protes tapi tukang-tukang yang di sana tetap bekerja seakan-akan saya tidak ada di sana. Lalu datang seseorang berpenampilan sok sangar membawa motor besar. Dia mengusir saya dengan cara yang.. Ga kayak ngusir sama sekali, jadi bukannya membentak seperti:
"Heh! Lu ga boleh ada di sini! Pergi sebelum gua bacok lu!"
Dia mengusirnya seperti:
"Pergi Mbak. Mbak ga boleh ada di sini." Dengan nada datar yang ga jauh beda sama kalo orang ngomong "Mbak, ada yang manggil tuh." Terus dia juga ngusirnya sambil toel-toel saya pake motornya. Yes, TOEL-TOEL, bukan ngebesarin suara mesin motornya ato mepet-mepet ngancem ngelindes saya. Dia bahkan ga nyalain mesin motornya. -_-|||
Jadilah saya pergi, membawa barang yang melekat di badan saja dan membiarkan sisanya dihancurkan. Saya memutuskan untuk pergi ke tempat ibu saya saja.
Jadilah saya pergi ke rumah.. Yang seharusnya berisi kamar pertama saya itu, dan bertemu ibu saya. Waktu saya ceritakan ibu saya malah bilang "Yaelah kamu, gitu aja kok rame! Yaudah kan kamu masih punya Mama!" dengan gaya bicara yang lebih mirip gaya bicara saya ketimbang gaya bicara ibu saya. Di sana juga ada nenek saya (beliau sebenernya sudah meninggal dunia) yang gaya bicara dan sikapnya juga seperti saya. Mereka juga bersikap lebih seperti teman akrab daripada seperti anak dan orangtuanya (pada umumnya, saya kalau bicara sama ibu saya seperti bicara sama teman. Dan seingat saya ibu dan nenek saya itu lebih sering berantem)
Mimpi berakhir di situ, saya bangun dengan bingung.
Sekarang saya tahu gimana rasanya jadi restoran McD cabang BIP (yang tinggal di Bandung harusnya tau).
Saya mimpi saya pulang ke kamar saya. Kamar ini bukan kamar saya yang sekarang, tapi kamar pribadi saya yang pertama (saya sering pindah rumah). Di kamar itu ada tempat tidur, meja belajar dan lemari besar yang isinya kayak seluruh barang-barang saya dari masa kecil sekali dijadikan wujud gambar dan ditumpuk rapat-rapat di lemari itu. Saya baru pulang, baru mau ganti baju dan beristirahat di kamar itu, tapi ternyata kamar saya tidak ada tirainya, hanya tirai tipis transparan sementara di luar entah kenapa banyak orang berkumpul. Cewek-cewek usia sekolah berkumpul seperti sedang kegiatan ekskul, mereka menatap ke arah kamar saya seakan-akan kamar saya tidak harusnya berada di situ. Mereka bahkan tidak segan untuk masuk untuk numpang lewat ke wc dan sebagainya.
Jadi karena saya ga bisa istirahat dengan tenang karena merasa ruang pribadi saya diganggu, saya pergi lagi.
Begitu saya pulang, entah kenapa kamar saya itu berada di pinggir pantai. Sepotong kamar itu berada di pantai yang sedang dibangun dan kamar itupun seperti sedang dibongkar. Saya panik dan protes tapi tukang-tukang yang di sana tetap bekerja seakan-akan saya tidak ada di sana. Lalu datang seseorang berpenampilan sok sangar membawa motor besar. Dia mengusir saya dengan cara yang.. Ga kayak ngusir sama sekali, jadi bukannya membentak seperti:
"Heh! Lu ga boleh ada di sini! Pergi sebelum gua bacok lu!"
Dia mengusirnya seperti:
"Pergi Mbak. Mbak ga boleh ada di sini." Dengan nada datar yang ga jauh beda sama kalo orang ngomong "Mbak, ada yang manggil tuh." Terus dia juga ngusirnya sambil toel-toel saya pake motornya. Yes, TOEL-TOEL, bukan ngebesarin suara mesin motornya ato mepet-mepet ngancem ngelindes saya. Dia bahkan ga nyalain mesin motornya. -_-|||
Jadilah saya pergi, membawa barang yang melekat di badan saja dan membiarkan sisanya dihancurkan. Saya memutuskan untuk pergi ke tempat ibu saya saja.
Jadilah saya pergi ke rumah.. Yang seharusnya berisi kamar pertama saya itu, dan bertemu ibu saya. Waktu saya ceritakan ibu saya malah bilang "Yaelah kamu, gitu aja kok rame! Yaudah kan kamu masih punya Mama!" dengan gaya bicara yang lebih mirip gaya bicara saya ketimbang gaya bicara ibu saya. Di sana juga ada nenek saya (beliau sebenernya sudah meninggal dunia) yang gaya bicara dan sikapnya juga seperti saya. Mereka juga bersikap lebih seperti teman akrab daripada seperti anak dan orangtuanya (pada umumnya, saya kalau bicara sama ibu saya seperti bicara sama teman. Dan seingat saya ibu dan nenek saya itu lebih sering berantem)
Mimpi berakhir di situ, saya bangun dengan bingung.
***
Sekarang saya tahu gimana rasanya jadi restoran McD cabang BIP (yang tinggal di Bandung harusnya tau).
Labels: alternate reality, kamar, keluarga, pantai, rumah lama

0 Comments:
Post a Comment
<< Home