Funny Dream Awareness Moment?
Saya mimpi, telah terjadi bencana besar di kota Bandung. Di mimpi pun tidak disinggung sama sekali apa bencananya, yang pasti semua orang tahu pernah terjadi sesuatu yang besar pada kota ini. Bukti visiblenya hanya traffic Bandung berubah drastis dan jembatan layang Pasopati lenyap sama sekali.
Bencana itu membuat kita terpencar-pencar. Saya dan Ozzi (teman saya, sudah dianggap kakak sendiri) tinggal bersama dua ibu-ibu paranoid dan masing-masing anaknya dan satu pasangan gay yang cueknya kelewatan.
Suatu hari, kami menemukan orang sekarat di jalan. Kami pikir dia mungkin korban bencana yang belum diselamatkan, jadi kami membawa dia ke rumah agar dirawat. Dua ibu di rumah langsung mencak-mencak, bilang sesuatu seperti "Dia kan orang asing, bukan bagian dari kita! Gimana kalau dia membawa masalah ke sini?"
Saya sih membela diri, bilang "Terus dia mau kita lempar ke jalan lagi? Emang kita sebelum bencana itu ga asing satu sama lain?" Sementara si pasangan gay cuek aja, tapi paling enggak waktu kami mau keluar mencari petunjuk, mereka ga protes pas dititipi orang sekarat ini.
(kalau dipikir-pikir, memang harusnya satu dari kami tinggal untuk menjaga orang itu, secara kami yang menemukan dan membawanya gitu.. Bayangin kalau para ibu-ibu parno itu membuang orang ini ke kali ketika kami pergi atau sejenisnya..)
Lalu kami pergi untuk mencari petunjuk di tempat kita menemukan orang itu. Tapi begitu kita pergi, Ozzi ditelpon dan katanya orang sekarat itu ilang. Mungkin dia siuman dan langsung pergi atau sejenisnya. Lalu kami disuruh pulang aja, karena katanya "Orang kayak gitu, dia pergi aja ga ketahuan pasti dia baik-baik aja lah sebenernya!"
Pas pulang, ketemu teman kami di angkot (yeah, angkot tampaknya apocalypse-proof). Kami ngobrol, membahas film Inception, film tentang orang-orang yang bisa memasuki mimpi orang dan memanipulasinya dll.
Lalu salah satu di antara kita nyeletuk, "Jangan-jangan kita ini juga sebenernya di dalam mimpi?"
(Begitu bangun, rasanya pengen ngakak guling-guling. Andai ga lagi terkantuk-kantuk sih..)
Setelah itu mimpi longkap. Tiba-tiba ibu saya ke Bandung dan mengajak belanja bahan perhiasan. Saya menceritakan kejadian orang sekarat itu, bagaimana hidup saya bersama dua ibu-ibu paranoid itu, dll..
Lalu saya terbangun. Selesai.
...What the heck???
Bencana itu membuat kita terpencar-pencar. Saya dan Ozzi (teman saya, sudah dianggap kakak sendiri) tinggal bersama dua ibu-ibu paranoid dan masing-masing anaknya dan satu pasangan gay yang cueknya kelewatan.
Suatu hari, kami menemukan orang sekarat di jalan. Kami pikir dia mungkin korban bencana yang belum diselamatkan, jadi kami membawa dia ke rumah agar dirawat. Dua ibu di rumah langsung mencak-mencak, bilang sesuatu seperti "Dia kan orang asing, bukan bagian dari kita! Gimana kalau dia membawa masalah ke sini?"
Saya sih membela diri, bilang "Terus dia mau kita lempar ke jalan lagi? Emang kita sebelum bencana itu ga asing satu sama lain?" Sementara si pasangan gay cuek aja, tapi paling enggak waktu kami mau keluar mencari petunjuk, mereka ga protes pas dititipi orang sekarat ini.
(kalau dipikir-pikir, memang harusnya satu dari kami tinggal untuk menjaga orang itu, secara kami yang menemukan dan membawanya gitu.. Bayangin kalau para ibu-ibu parno itu membuang orang ini ke kali ketika kami pergi atau sejenisnya..)
Lalu kami pergi untuk mencari petunjuk di tempat kita menemukan orang itu. Tapi begitu kita pergi, Ozzi ditelpon dan katanya orang sekarat itu ilang. Mungkin dia siuman dan langsung pergi atau sejenisnya. Lalu kami disuruh pulang aja, karena katanya "Orang kayak gitu, dia pergi aja ga ketahuan pasti dia baik-baik aja lah sebenernya!"
Pas pulang, ketemu teman kami di angkot (yeah, angkot tampaknya apocalypse-proof). Kami ngobrol, membahas film Inception, film tentang orang-orang yang bisa memasuki mimpi orang dan memanipulasinya dll.
Lalu salah satu di antara kita nyeletuk, "Jangan-jangan kita ini juga sebenernya di dalam mimpi?"
(Begitu bangun, rasanya pengen ngakak guling-guling. Andai ga lagi terkantuk-kantuk sih..)
Setelah itu mimpi longkap. Tiba-tiba ibu saya ke Bandung dan mengajak belanja bahan perhiasan. Saya menceritakan kejadian orang sekarat itu, bagaimana hidup saya bersama dua ibu-ibu paranoid itu, dll..
Lalu saya terbangun. Selesai.
***
...What the heck???
Labels: alternate reality, bandung, bencana, orang hilang, sadar mimpi, teman-teman

0 Comments:
Post a Comment
<< Home