Mother and Child of the Faced Door
Ada sebuah pintu.
Pintu itu memiliki wajah manusia. Wajah itu bukan wajah tempelan, tetapi seperti bagian dari pintu itu, seperti ia memang tumbuh dari pintu itu. Wajah yang tampak seperti sudah setua waktu, matanya menutup. Ekspresinya tenang tapi hampa tanpa kehidupan.
Wajah itu membuka mulutnya, menelanku ke dalamnya. Aku dibawa ke dalam kekosongan putih tanpa batas.
Di sana, aku adalah seorang anak. Aku membawa pensil dan kertas, berlari menuju seorang perempuan yang berdiri di kejauhan. Perempuan itu membawa sebuah buku, di dekatnya juga ada buku tergeletak. Asap terbang lembut dari buku itu, seakan buku itu tadinya terbakar dan apinya baru saja padam.
Pintu itu memiliki wajah manusia. Wajah itu bukan wajah tempelan, tetapi seperti bagian dari pintu itu, seperti ia memang tumbuh dari pintu itu. Wajah yang tampak seperti sudah setua waktu, matanya menutup. Ekspresinya tenang tapi hampa tanpa kehidupan.
Wajah itu membuka mulutnya, menelanku ke dalamnya. Aku dibawa ke dalam kekosongan putih tanpa batas.
Di sana, aku adalah seorang anak. Aku membawa pensil dan kertas, berlari menuju seorang perempuan yang berdiri di kejauhan. Perempuan itu membawa sebuah buku, di dekatnya juga ada buku tergeletak. Asap terbang lembut dari buku itu, seakan buku itu tadinya terbakar dan apinya baru saja padam.
Dengan riang aku memamerkan kertasku padanya. Kertas itu penuh dengan merah dan hitam. Aku melihat gambar sebuah wajah sosok yang sedang berteriak memenuhi kertas itu. Wajah itu tampak marah, sedih, ketakutan dan kesakitan sekaligus.
Perempuan itu tersenyum, ia memuji gambarku dan mengulurkan kedua tangannya, menyambutku dalam pelukannya.
Warna merah segar menetes dari kertas yang kubawa. Darah.
Perempuan itu tersenyum, ia memuji gambarku dan mengulurkan kedua tangannya, menyambutku dalam pelukannya.
Warna merah segar menetes dari kertas yang kubawa. Darah.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home