Pangeran dan Sayembara Teh
Pada jaman dahulu kala, tersebutlah suatu kerajaan di negeri nun jauh di sana. Di kerajaan itu hiduplah seorang pangeran yang sangat rendah hati dan merakyat walaupun seleranya sulit dimengerti.
Pada suatu hari, raja kerajaan tersebut mendapati putranya dalam keadaan sedih. Ketika ditanya, sang pangeran menjawab, "Ayah, belakangan ini aku sedih. Karena pelajaran dan latihan yang begitu banyak aku tidak bisa berkeliling kerajaan ini sesering dulu lagi. Aku mengerti semua ini kulakukan untuk kerajaan ini, tetapi aku sungguh merindukan suasana luar istana!"
Sang raja bingung, karena dia pun tidak bisa begitu saja menghentikan pelajaran dan latihan bagi sang putra mahkota, tetapi ia pun sedih melihat kondisi anaknya. "Kelak nanti kau akan bisa lebih bebas mengunjungi seisi kerajaan ini, anakku. Tetapi untuk sekarang ini kau belum bisa melakukannya. Sampai saat itu, adakah yang bisa ayah lakukan agar kamu tidak sedih lagi?"
"Kalau begitu aku akan bersabar. Untuk sementara waktu ini aku ingin teh saja."
Sang raja sungguh bingung, karena permintaan sang pangeran sebetulnya sangat sederhana. Tetapi sang raja sungguh ingin membuat anaknya senang, sehingga ia memutuskan untuk mencari teh yang istimewa untuk anaknya. Beliau membuat sayembara dan akan memberikan harta yang luar biasa banyaknya bagi orang yang sanggup membawa dan membuatkan teh terbaik bagi sang putra mahkota.
Tidak banyak ahli teh di negara itu, sehingga tidak banyak pula yang menanggapi sayembara itu. Orang pertama yang datang adalah seorang petualang kuliner. Ia berkeliling dunia untuk mencari bahan-bahan terbaik untuk membuat makanan dan minuman kualitas tertinggi. Ia membawakan dauh teh kualitas tinggi dari bukit yang sangat jauh dari peradaban. Teh tersebut adalah teh yang langka, yang harus dipetik dengan cara khusus dan hanya bisa dipetik seratus tahun sekali. Ia datang membawakan daun teh itu di dalam kantung dari sutera terbaik, menyeduhnya dengan peralatan khusus dan menyajikannya pada sang pangeran.
Sang pangeran berkata, "Teh ini sungguh luar biasa. Ia memiliki rasa unik yang langka dan tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tetapi ini bukan teh yang kuinginkan."
Lalu orang kedua datang, ia adalah orang terbaik dari semua ahli teh di kerajaan tersebut (yang mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari). Ia membawakan daun teh biasa, tetapi mencampurkannya dengan bahan-bahan biasa lainnya yang tidak biasa digunakan dalam teh dan menyeduhnya dengan teknik yang tidak biasa pula, walaupun ia menggunakan peralatan yang biasa-biasa saja.
Ketika teh tersebut dihidangkan, sang pangeran berkata, "Luar biasa, aku tidak pernah tahu teh biasa bisa memiliki rasa seperti ini. Tetapi ini bukan teh yang aku inginkan."
Orang ketiga adalah seorang penyihir, ia adalah penyihir sakti yang memiliki teh keabadian. Legenda menyebutkan bahwa teh itu bisa membuat orang yang meminumnya menjadi tidak bisa mati, tetapi kebenaran dari cerita tersebut tidak pernah terbukti karena sang penyihir tidak pernah membiarkan orang lain mengambil teh miliknya itu. Ia menyeduh tehnya dengan sihirnya dan menyajikannya dengan teko dan cangkir yang dibuat dengan sihir juga.
"Jadi ini teh keabadian yang legendaris itu?" kata sang pangeran, "Aku tidak menyangka rasanya tidak jauh beda dengan teh biasa, walaupun teh ini sungguh hangat dan membuatku merasa lebih sehat. Sejujurnya aku tidak begitu menginginkan keabadian, tetapi aku bangga bisa meminum teh legendaris walaupun ini bukan teh yang aku inginkan."
Walaupun tak satupun dari teh mereka bisa memuaskan sang pangeran, sang pangeran tetap berterima kasih dan meminta ayahnya untuk tetap memberikan hadiah yang layak untuk mereka, karena biar bagaimanapun mereka memang telah memberinya teh-teh terbaik di kerajaan itu. Sang pangeran pulai merasa tidak enak hati, "Ayah, hentikan saja sayembara ini. Aku merasa tidak enak telah merepotkan mereka dengan permintaanku. Aku akan bersabar saja sampai aku bisa lebih bebas dan mencari teh itu sendiri saja."
Tetapi tepat setelah pangeran selesai bicara, datang orang keempat. Ia adalah pemuda biasa dengan penampilan sederhana, yang memasuki istana dengan panik sambil membawa teh yang sudah jadi. Sang pangeran tentu saja menyambutnya dengan baik dan dengan senang hati meminum teh milik pemuda itu.
Sang pangeran akhirnya tersenyum puas. "Inilah teh yang aku inginkan. Terima kasih telah repot-repot membawakannya ke mari."
Maka sang pemuda sederhana pun pulang dengan membawa harta berlimpah. Ketiga orang sebelumnya langsung menghampirinya dan bertanya padanya tentang teh yang dibawanya.
Sang pemuda menjawab, "Aku meminta bantuan banyak orang untuk mendapatkan teh langka dan bahan-bahan berkualitas tinggi, aku sanggup mencampurkannya dengan cara tidak biasa dan berusaha membuat peralatan yang tidak biasa pula untuk menyeduh dan menyajikannya. Aku bahkan meminta saran dari banyak penyihir dan tukang obat agar tehku tidak hanya lezat, tetapi juga penuh khasiat.."
Ketiga orang itu langsung kagum pada sang pemuda itu. "Wah, itu benar-benar luar biasa! Pantas saja sang pangeran menyukainya! Adakah rahasia lain yang bisa kau bagi pada kami?"
"Ada." Kata sang pemuda dengan malu-malu, "Di jalan menuju istana, secara tidak sengaja aku menumpahkan semua bahan dan peralatanku. Seluruh peralatanku rusak dan semua bahan kotor, rusak, bahkan daun tehnya hilang semua tertiup angin. Karena panik, aku membeli teh yang sudah jadi di toko terdekat dan itulah yang kusajikan pada sang pangeran tadi."
FIN
Moral dari cerita: Si pangeran sebenernya cuma pingin minum teh kotak. *ditendang*
Lagi-lagi ini bukan mimpi. Ini gara-gara saya baca komik tentang sayembara masak sambil minum.. well, teh kotak.
Labels: dongeng, kerajaan, original story, penyihir, teh

0 Comments:
Post a Comment
<< Home