Antara Candi dan Toko Buku
Ada beberapa tempat yang entah kenapa sering muncul berkali-kali di mimpi saya, salah satunya adalah sebuah toko buku besar super lengkap dengan interior temaram dan perabot serba kayu. Kira-kira seperti Kinokuniya tapi versi lebih classy dan lebih besar.(ga maksud menyinggung lho, Kinokuniya. Saya masih mencintaimu)
Nah, di mimpi saya kali ini toko buku ini buka cabang di Bandung. Lucunya saya bahkan ga tau toko buku itu aslinya berada di mana, kok tiba-tiba mereka buka cabang di Bandung???
Yang versi Bandung ini lebih sederhana, tampak tidak semewah yang versi pusatnya walaupun tempatnya tetep aja amit-amit besar. saya pergi ke sana bareng kakak saya dan kami langsung kayak anak kecil dilepas di toko mainan.
Tapi yang cabang Bandung ini punya keistimewaan tersendiri sepertinya.
Jadi, saya iseng masuk ke satu bagian yang dijaga oleh SPG ramah bertampang eksotik yang menyapa saya dengan logat yang tidak biasa. Entah bagaimana caranya saya berakhir di sebuah tempat di luar ruangan, berdiri di atas candi besar yang masih sangat bagus kondisinya yang dikelilingi alam yang masih sangat asri dengan udara yang masih sangat bersih.
SPG itu pun ada di sana walau dengan kostum yang berbeda, mengajak saya untuk melihat-lihat sambil memberi penjelasan yang sialnya saya ga bisa ingat karena terlalu panjang dan saya terlalu shock. Intinya yang bisa saya ingat adalah dia pengen saya ngeliat-liat kompleks candi ini.
Kompleks candi itu dihubungkan oleh jalan-jalan yang terbuat dari batu, di mana air selalu mengalir di antara bebatuan itu. Di pinggir-pinggir jalan selalu ada sesajen berupa rerumputan yang disusun bersama lukisan-lukisan yang pada umumnya dilukis di kanvas panjang. Di depan candi ada 3 buah petak segi empat (ada kali 5x5 m) dengan tempat sesajen di tengahnya, juga dikelilingi rumput-rumput sajen dan lukisan. Di petak yang tengah, yang paling sedikit sajen rumput dan lukisannya, berkumpul orang-orang berbaju putih yang duduk bersila di tanah mengelilingi tempat sesajen, berdoa sambil membakar dupa.
Saya berjalan menyusuri jalan batu, saya melihat susunan anak tangga batu yang disusun menyesuaikan dengan bentuk asli alamnya (dibuat sekedar supaya gampang jalan di sana waktu ujan dsb). Di sini jalan bercabang, salah satunya menuju tempat datar dengan tumpukan sesajen (entah apa, seperti jagung tapi mirip ubi juga). Si Mbak SPG bilang ke saya kalo saya boleh ngambil, walau feeling gue merasa biasanya sesajen itu ga boleh diambil.
Saya mengambil jalan lain yang tersambung dengan bagian kompleks candi yang lain. Bagian yang ini berupa tempat persegi panjang dengan bagian tengah menjorok ke bawah dan kita harus menuruni tangga batu besar (khas candi) untuk menuju ke bawah. Tidak ada sesajen rumput atau lukisan di sini, hanya aliran air di antara batunya lebih deras dan lantai terdalamnya tergenang air jernih setinggi mata kaki. Di dekat sana ada tempat sesajen, tetapi tidak ada apa-apa di sana.. Kecuali satu makhluk semacam golem.
Si Mbak SPG bilang ke saya untuk gak takut karena dia gakkan nyerang saya. Feeling saya merasa dia biasanya akan mengejar siapapun yang mendekati tempat itu walaupun kenyataannya dia cuma menatap saya sebentar, lalu acuh tah acuh melewati kami sambil garuk-garuk kepala.
Lalu saya melewati jalan batu yang datar lagi menuju tempat yang serupa dengan yang sebelumnya, hanya saja lebih dalam dengan tangga batu yang lebih besar pula. Bedanya dengan tempat-tempat lain adalah tempat ini sangat kering dan batu-batunya memiliki relief yang sama, seperti dibuat dengan dicetak (gimana caranya nyetak relief timbul di batu ya?).
Saya ditanya sama si Mbak SPG, bisa nggak baca tulisan di relief itu. saya jawab enggak, dia cuma merespon dengan anggukan dan senyum ala SPG. Dia membiarkan saya mengamati tempat itu sebelum mengantarkan saya ke candi besar tempat saya masuk.
Dia bilang ke saya kalau saya bebas untuk datang ke tempat ini kapanpun saya suka. Waktu saya mau tanya kenapa, tau-tau saya udah di toko buku lagi. Si SPG sudah berganti kostum seragam SPG toko buku dan berbicara dengan nada SPG normal pada umumnya.
"Terima kasih, silakan datang kembali~"
(saya yakin sebenernya ada satu tempat lagi, tapi saya ga bisa inget berhubung saya ga langsung nyatet mimpi ini setelah bangun.
dan saya yakin itu toko buku tadinya Blitz Megaplex PVJ)
Labels: alternate reality, bandung, candi, dunia, fantasy, toko buku

0 Comments:
Post a Comment
<< Home